Namun, berhemat bukan berarti pelit atau membatasi kebahagiaan anak. Berhemat berarti melatihnya memahami nilai uang, mengasah rasa syukur, serta mengontrol diri.
10 Tips Mengajarkan Anak Berhemat, Ajarkan Bersyukur dan Menabung!

Orangtua dianjurkan menanamkan rasa syukur sejak usia sekolah agar anak menghargai barang yang dimiliki, merasa cukup, dan tidak mudah tergoda tren atau keinginan sesaat.
Anak perlu memahami bahwa uang berasal dari kerja keras orangtua melalui diskusi sederhana, termasuk saat berbelanja, supaya lebih menghargai nominal dan batasan kebutuhan keluarga.
Mama dan Papa perlu tegas membedakan kebutuhan dengan keinginan, tidak selalu menuruti permintaan anak, serta melatih kesabaran dan kontrol diri sebelum membeli barang.
Mengajarkan anak berhemat di usia sekolah memang membutuhkan kesabaran ekstra. Diperlukan konsistensi dan peran bersama dari Mama dan Papa.
Dapat membantu Mama mendidik anak dirumah. Berikut sudah Popmama.com rangkum 10 tips mengajarkan anak berhemat.
Table of Content
1. Mengajarkan anak untuk selalu bersyukur
Langkah paling awal dalam membentuk karakter hemat pada anak usia sekolah adalah membangun rasa syukur di dalam dirinya, Ma.
Di rentang usia 6-9 Tahun, si Anak mulai aktif bersosialisasi dan terkadang membandingkan apa yang ia miliki dengan teman-temannya.
Untuk itu, Mama bisa mulai menanamkan kebiasaan bersyukur dari hal-hal kecil. Misalnya, membiasakan anak mengucapkan terima kasih atas makanan yang tersaji di meja.
Hal ini penting untuk membentuk sifat hemat dalam diri anak supaya berfokus pada apa yang sudah ia miliki, bukan pada apa yang belum ia punyai.
Ketika anak terbiasa merasa cukup dan menghargai barang-barang di rumah, ia tidak akan mudah tergiur oleh tren atau keinginan sesaat.
Sikap inilah yang menjadi fondasi paling ampuh agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bijak mengelola uang.
2. Jelaskan pada anak bahwa mencari uang itu tidak mudah
Mama, sampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak usia sekolah, bahwa uang adalah hasil dari kerja keras dan tenaga. Semua itu dikeluarkan oleh Mama dan Papa supaya kebutuhan terpenuhi.
Libatkan si Anak dalam diskusi saat berbelanja kebutuhan rumah tangga, sehingga ia paham bahwa uang memiliki alokasi dan batasan.
Karena ketika anak mulai paham proses dan usaha di balik hadirnya uang. Rasa empati dan kepeduliannya akan terasah. Ia tidak lagi memandang uang sebagai hal yang gampang didapat lalu dibuang-buang begitu saja.
Dengan menyadari betapa beratnya perjuangan orangtua dalam bekerja, anak akan belajar menghargai setiap nominal dan berpikir dua kali sebelum meminta barang yang tidak terlalu penting.
3. Tidak memanjakan dan menuruti semua kemauan anak
Setiap orangtua pasti menyayangi anak dengan berusaha memenuhi segala keinginannya.
Apalagi di usia ini, sedang aktif-aktifnya tergiur mainan viral yang dipamerkan oleh teman-temannya.
Menuruti kemauan anak memang cara tercepat untuk membuatnya bahagia dan tenang. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, justru bisa menjadi bumerang.
Begini, Ma selalu menuruti permintaan akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang impulsif, mudah menuntut, dan jauh dari sifat hemat.
Mama dan Papa perlu bersikap tegas dalam membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan sesaat. Ajarkan anak untuk bersabar serta memahami skala prioritas.
Jika ia menginginkan barang baru, ajak berdiskusi terlebih dahulu. Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya karena ikut-ikutan tren.
Proses menunda keinginan ini melatih kontrol diri serta membentuk mental anak agar tidak gampang bersikap boros.
Anak akan belajar menghargai proses, lebih matang dalam memilih barang, dan tidak mudah rewel ketika keinginannya belum bisa terwujud.


![[QUIZ] Cek Fakta! Jam Lahir Anak Ternyata Mempengaruhi Kepribadiannya](https://image.empalpenyet.com/post/20171214/newborn-jam-lahir-anak-tentukan-kepribadiannya-cek-disini-ma-cover-7c319d11d0de821e349f9b44f20a3bc3.jpg)















